Rumelu.com: Apakah harga rumah akan naik di 2026? Pertanyaan ini sedang banyak dibahas oleh calon pembeli rumah, investor properti, hingga para profesional muda yang berencana membeli hunian pertama. Dengan kondisi pasar properti yang terus berubah—mulai dari suku bunga, inflasi, hingga kebijakan pembangunan—memprediksi harga rumah tahun depan menjadi hal yang penting untuk strategi finansial.
Rumelu.com merangkum sejumlah indikator ekonomi, perilaku pasar, dan tren pembangunan untuk menilai apakah 2026 akan menjadi tahun kenaikan harga rumah atau justru tahun stabilisasi.
1. Tren Harga Rumah 5 Tahun Terakhir
Jika melihat data properti nasional dalam kurun 5 tahun terakhir, harga rumah mengalami kenaikan rata-rata 3–7% per tahun. Meski pada masa pandemi sempat melambat, pemulihan ekonomi telah mendorong peningkatan permintaan perumahan, khususnya hunian kelas menengah.
Kenaikan ini didorong oleh beberapa faktor, seperti:
- Peningkatan permintaan dari keluarga muda
- Pergerakan penduduk ke area suburban
- Biaya konstruksi yang naik tiap tahun
Tren ini menjadi sinyal awal bahwa harga rumah cenderung bergerak naik secara bertahap.
2. Prediksi Ekonomi Nasional 2026
Proyeksi ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif di 2026. Dengan perkiraan pertumbuhan PDB yang stabil serta tingkat daya beli masyarakat yang membaik, sektor properti diprediksi ikut terdorong naik.
Ketika ekonomi menguat, biasanya permintaan properti meningkat, dan hal ini berpotensi menaikkan harga. Namun, tekanan inflasi serta biaya material yang belum benar-benar turun membuat harga rumah semakin sulit kembali ke level sebelum pandemi.
3. Dampak Inflasi dan Kenaikan Biaya Material
Inflasi tahunan yang stabil di kisaran 3%–4% diprediksi akan tetap berpengaruh pada harga material konstruksi. Material seperti semen, baja, keramik, hingga komponen finishing telah mengalami kenaikan signifikan sejak 2022 dan belum menunjukkan tren penurunan drastis.
Biaya tenaga kerja juga meningkat seiring kenaikan UMR di berbagai kota besar. Kombinasi ini membuat biaya pembangunan per unit rumah terus naik, dan hal tersebut hampir pasti berdampak pada harga jual rumah tahun 2026.
4. Suku Bunga dan Dampaknya pada KPR
Suku bunga menjadi faktor terbesar dalam menentukan kemampuan beli masyarakat. Jika suku bunga KPR kembali turun pada 2026, pasar properti berpotensi menjadi lebih aktif, yang bisa mendorong kenaikan permintaan dan harga.
Namun, jika suku bunga tetap tinggi, pembeli akan lebih berhati-hati dan pasar mungkin bergerak lebih lambat. Artinya, prediksi harga rumah 2026 tidak hanya bergantung pada inflasi dan biaya konstruksi, tetapi juga pada kebijakan perbankan.
5. Suplai vs Permintaan: Apakah Pasar Masih Kekurangan Rumah?
Berdasarkan data backlog hunian nasional, Indonesia masih memiliki kekurangan rumah untuk jutaan keluarga. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan potensial masih sangat tinggi, terutama di area dekat pusat kota dan kawasan berkembang.
Sementara itu, suplai dari developer tidak meningkat secepat permintaan—terutama karena kenaikan biaya pembangunan dan perizinan. Karena itu, kelangkaan suplai kemungkinan menjadikan harga rumah terus cenderung naik.
6. Pengembangan Infrastruktur Baru di 2025–2026
Pembangunan infrastruktur seperti jalan tol baru, MRT/kereta, hingga kawasan industri menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga rumah di daerah sekitar.
Area yang menyambut infrastruktur baru biasanya mengalami peningkatan harga hingga 10–25% dalam 1–2 tahun. Dengan banyak proyek besar yang akan rampung pada 2025–2026, daerah suburban akan menjadi fokus kenaikan harga tertinggi.
7. Kenaikan Harga Lahan yang Sulit Ditekan
Lahan merupakan komponen harga paling besar dalam properti. Ketersediaan lahan semakin menurun, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Makassar, dan Surabaya. Kenaikan harga tanah dalam 3 tahun terakhir mencapai 8–12% di beberapa daerah.
Karena lahan tidak bisa diperbanyak, kenaikan harga tanah hampir pasti akan berlanjut pada 2026, sehingga mendorong harga rumah naik.
8. Apakah Harga Rumah Akan Naik di 2026?
Berdasarkan seluruh indikator di atas, mayoritas tanda ekonomi menunjukkan potensi kenaikan harga rumah pada 2026.
Analisis Rumelu.com memperkirakan bahwa harga rumah di 2026 kemungkinan akan:
- Naik 4–8% untuk rumah tapak kelas menengah
- Naik 2–5% untuk apartemen kelas menengah–atas
- Naik 8–15% di kawasan berkembang dekat infrastruktur baru
Kenaikan ini tentu tidak merata—setiap kota memiliki dinamika pasar yang berbeda. Namun tren nasional menunjukkan arah yang cenderung naik.
9. Haruskah Membeli Rumah di 2024–2025 Sebelum Harga Naik?
Bagi yang sudah siap secara finansial, membeli rumah sebelum 2026 bisa menjadi keputusan yang menguntungkan. Alasannya:
- Harga rumah saat ini masih stabil sebelum kenaikan biaya konstruksi baru
- Persediaan rumah siap huni masih cukup banyak
- Beberapa bank memberikan promo KPR akhir tahun dan awal tahun
- Developer masih menawarkan harga pre-launch di beberapa proyek
Menunda terlalu lama berpotensi membuat pembeli menghadapi harga baru yang lebih tinggi.
10. Rekomendasi Rumelu.com untuk Pembeli Rumah
Jika Anda berencana membeli rumah menjelang 2026, berikut rekomendasi strategi yang bisa dipertimbangkan:
- Pilih lokasi dekat infrastruktur yang akan selesai dalam 2 tahun
- Bandingkan harga tanah per meter di area sekitar
- Pertimbangkan proyek pre-launch dari developer terpercaya
- Gunakan simulasi KPR untuk memastikan kemampuan cicilan
- Prioritaskan rumah siap bangun atau siap huni untuk menghindari risiko mangkrak
Dengan strategi tepat, pembeli bisa mendapatkan harga terbaik sebelum pasar bergerak naik di 2026.
Penulis: Tim Rumelu.com


