Jakarta Mulai Bergerak: Sampah Tak Bisa Lagi Hanya Diangkut dan Dibuang
Jakarta Mulai Bergerak: Sampah Tak Bisa Lagi Hanya Diangkut dan Dibuang
Meta Judul Artikel: Jakarta Mulai Bergerak: Sampah Tak Bisa Lagi Hanya Diangkut dan Dibuang
Rumelu.com: Selama bertahun-tahun, pengelolaan sampah di banyak kota besar Indonesia berjalan dengan pola yang hampir sama: sampah dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sistem ini memang membantu menjaga kota tetap berjalan, tetapi seiring meningkatnya jumlah penduduk dan konsumsi masyarakat, pendekatan tersebut semakin menunjukkan keterbatasannya.
Jakarta menjadi salah satu daerah yang paling merasakan tekanan tersebut. Dengan ribuan ton sampah yang dihasilkan setiap hari, kapasitas pengelolaan sampah terus menghadapi tantangan yang tidak ringan. Karena itulah, berbagai pihak mulai mendorong perubahan mendasar: sampah tidak bisa lagi hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi harus dikurangi sejak dari sumbernya.
Pergeseran cara pandang ini menjadi salah satu fokus utama dalam Talkshow Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Menuju Sistem Zero Waste pada ajang Pesta Media 2026 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta di Taman Ismail Marzuki.
Dari Angkut-Buang Menuju Pengurangan dari Sumber
Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran mengenai pentingnya pengurangan sampah dari sumber semakin menguat. Banyak organisasi lingkungan, komunitas warga, hingga aktivis zero waste menilai bahwa solusi jangka panjang tidak cukup hanya mengandalkan armada pengangkut dan perluasan area pembuangan.
Perubahan justru harus dimulai dari tempat sampah pertama yang ada di setiap rumah.
Kesadaran ini sejalan dengan berbagai kajian yang menunjukkan bahwa sampah rumah tangga merupakan salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah perkotaan. Artinya, pengurangan sampah dari rumah menjadi langkah yang paling realistis sekaligus paling berdampak.
Ketika masyarakat mulai memilah sampah sejak awal, beban yang harus ditangani sistem kota akan berkurang secara signifikan.
Bantargebang Menjadi Pengingat Penting
Momentum perubahan ini semakin menguat setelah peristiwa longsor di TPST Bantargebang yang kembali mengingatkan banyak pihak tentang keterbatasan sistem lama.
Selama ini, Bantargebang menjadi tulang punggung pengelolaan sampah Jakarta. Namun dengan volume sampah yang terus meningkat setiap tahun, kapasitas kawasan tersebut tidak mungkin menjadi solusi selamanya.
Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran mengenai beban TPA Bantargebang yang terus bertambah dari waktu ke waktu.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan mulai mengarahkan agar ke depan Bantargebang hanya menerima sampah residu, yaitu sampah yang benar-benar tidak dapat didaur ulang atau diolah kembali.
Artinya, proses pemilahan harus dilakukan jauh sebelum sampah sampai ke tempat pembuangan akhir.
Jakarta Menghasilkan Ribuan Ton Sampah Setiap Hari
Produksi sampah Jakarta saat ini disebut mencapai sekitar 7.500 ton per hari dan dalam kondisi tertentu dapat mendekati 8.000 ton.
Angka tersebut menunjukkan betapa besar tekanan yang harus ditanggung sistem pengelolaan sampah ibu kota setiap harinya.
Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa Jakarta tidak sendirian. Banyak daerah lain mulai menghadapi persoalan serupa, termasuk krisis lahan sampah yang mulai dirasakan berbagai kota di Indonesia.
Jika tidak ada perubahan pola pengelolaan, kapasitas tempat pembuangan akan semakin sulit mengejar pertumbuhan volume sampah yang terus meningkat.
Peran Penting Pemilahan Sampah dari Rumah
Salah satu langkah yang kini didorong secara serius adalah pemilahan sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memperkuat arah kebijakan tersebut melalui Pergub Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga.
Regulasi ini mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengurangan dan pemilahan sampah berbasis komunitas.
Langkah tersebut sejalan dengan berbagai kampanye edukasi yang mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi sampah rumah tangga dari sumbernya melalui kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan setiap hari.
Mulai dari mengurangi sisa makanan, memisahkan sampah organik dan anorganik, hingga menggunakan kembali barang yang masih layak pakai.
Zero Waste Bukan Lagi Sekadar Wacana
Dukungan terhadap sistem pemilahan sampah juga datang dari berbagai organisasi lingkungan, termasuk Greenpeace Indonesia.
Menurut mereka, pengelolaan sampah yang masih didominasi sistem pencampuran dan open dumping tidak lagi relevan untuk menjawab tantangan lingkungan masa kini.
Pendekatan zero waste mendorong pengurangan sampah sejak awal, bukan sekadar memindahkan masalah ke lokasi lain.
Dalam praktiknya, pendekatan ini membutuhkan dukungan fasilitas pengolahan sampah organik yang memadai, serta keterlibatan produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR).
Dengan demikian, tanggung jawab pengelolaan sampah tidak hanya dibebankan kepada pemerintah daerah, tetapi juga kepada pihak yang menghasilkan produk dan kemasan.
Budaya Guna Ulang Perlu Diperkuat
Selain pemilahan, konsep guna ulang atau reuse juga dinilai memiliki potensi besar untuk mengurangi timbulan sampah, terutama sampah plastik sekali pakai.
Menariknya, budaya guna ulang sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia.
Penggunaan galon isi ulang, tabung gas, wadah makanan yang digunakan berkali-kali, hingga berbagai praktik serupa telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Jika diperluas ke lebih banyak jenis produk, konsep ini dapat membantu membangun ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan sekaligus mengurangi beban sampah perkotaan.
Pola hidup seperti ini juga sejalan dengan berkembangnya green lifestyle yang kini semakin banyak diterapkan keluarga urban.
Transformasi Dimulai dari Rumah
Pada akhirnya, perubahan sistem pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, regulasi, atau fasilitas pengolahan yang lebih modern.
Transformasi terbesar justru dimulai dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.
Sebagian besar sampah yang dihasilkan rumah tangga sebenarnya masih memiliki peluang untuk dikelola kembali. Sampah organik, misalnya, dapat dimanfaatkan melalui berbagai metode sederhana seperti komposting atau pengolahan pupuk cair.
Karena itu semakin banyak keluarga mulai belajar mengolah sampah organik di rumah sebagai bagian dari kontribusi kecil terhadap lingkungan yang lebih sehat.
Jakarta mungkin masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Namun arah perubahannya mulai terlihat jelas. Sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang cukup diangkut dan dibuang, melainkan sumber daya yang harus dikelola secara lebih cerdas sejak dari rumah.
Ketika pemilahan menjadi kebiasaan dan pengurangan sampah menjadi budaya, beban kota akan berkurang. Dan perubahan itu selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari oleh jutaan rumah tangga.
Sebagian besar sampah rumah tangga di Indonesia masih didominasi sampah organik yang sebenarnya dapat diolah kembali menjadi kompos, pupuk cair, atau berbagai bentuk pemanfaatan lainnya. Karena itu, pemilahan dan pengolahan dari sumber menjadi salah satu kunci penting dalam mengurangi beban sampah kota.
