Kenapa Fermentasi Sampah Organik Bisa Mengurangi Bau?
Kenapa Fermentasi Sampah Organik Bisa Mengurangi Bau?
Rumelu.com: Salah satu alasan banyak orang enggan mengolah sampah organik di rumah adalah masalah bau.
Sisa makanan, sayuran, atau kulit buah yang menumpuk terlalu lama memang bisa menimbulkan aroma tidak sedap, terutama di lingkungan rumah urban yang memiliki ruang terbatas.
Namun menariknya, dalam praktik pengolahan sampah organik modern, proses fermentasi justru dikenal sebagai salah satu cara untuk membantu mengurangi bau tersebut.
Lalu kenapa sesuatu yang berasal dari proses pembusukan justru bisa membuat sampah lebih terkendali?
Bau pada Sampah Organik Sebenarnya Berasal dari Proses yang Tidak Terkontrol
Ketika sampah organik dibuang begitu saja dan menumpuk tanpa pengelolaan, proses penguraiannya berlangsung secara liar dan tidak stabil.
Dalam kondisi seperti itu, bakteri pembusuk berkembang tidak terkendali dan menghasilkan gas yang menimbulkan bau menyengat.
Apalagi jika sampah bercampur dengan cairan makanan, suhu panas, dan minim sirkulasi udara.
Kondisi ini umum terjadi di tempat sampah rumah tangga sehari-hari.
Tidak heran jika semakin banyak orang mulai menyadari bahwa sampah rumah tangga memiliki dampak besar bagi lingkungan kota terutama ketika pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik sejak dari rumah.
Fermentasi Bekerja dengan Cara yang Berbeda
Fermentasi pada sampah organik sebenarnya adalah proses penguraian yang dibuat lebih terkontrol.
Dalam proses ini, mikroorganisme tertentu membantu memecah bahan organik secara lebih stabil sehingga pembentukan gas penyebab bau bisa ditekan.
Karena prosesnya lebih terkendali, aroma yang muncul biasanya tidak sekuat pembusukan biasa.
Bahkan dalam beberapa metode, aroma fermentasi cenderung lebih asam atau menyerupai tape dibanding bau busuk menyengat.
Mengurangi Sampah yang Menumpuk Terlalu Lama
Salah satu penyebab utama bau pada sampah dapur adalah penumpukan terlalu lama tanpa pemisahan.
Ketika sisa makanan bercampur dengan plastik dan limbah lain, proses penguraian menjadi tidak seimbang dan memicu aroma yang lebih tajam.
Karena itu banyak keluarga mulai mencoba mengurangi sampah dapur di rumah secara sederhana dengan memisahkan sampah organik lebih awal sebelum menimbulkan masalah di rumah.
Fermentasi Membantu Menekan Gas Penyebab Bau
Dalam kondisi pembusukan biasa, sampah organik dapat menghasilkan gas seperti amonia dan senyawa sulfur yang memicu aroma tidak sedap.
Sementara pada proses fermentasi, aktivitas mikroorganisme lebih diarahkan sehingga pembentukan gas-gas tersebut menjadi lebih terkendali.
Inilah sebabnya pengolahan organik melalui fermentasi sering terasa lebih “ringan” dari sisi aroma dibanding sampah yang hanya dibiarkan membusuk di tempat terbuka.
Metode yang Banyak Digunakan di Rumah Urban
Saat ini semakin banyak rumah tangga urban mulai menggunakan metode fermentasi sederhana untuk mengolah sampah dapur.
Selain karena lebih praktis, metode ini juga dianggap lebih cocok untuk lingkungan rumah yang tidak memiliki lahan luas.
Prosesnya biasanya menggunakan wadah tertutup sehingga aroma dapat lebih terkontrol dibanding sampah yang dibiarkan terbuka begitu saja.
Inilah yang membuat pengolahan organik mulai dekat dengan konsep green lifestyle untuk rumah modern yang lebih realistis diterapkan dalam kehidupan kota.
Dari Sampah Menjadi Pupuk Organik Cair
Fermentasi juga menjadi salah satu proses penting dalam pembuatan pupuk organik cair atau POC.
Sisa sayur, kulit buah, dan bahan organik lain difermentasi agar kandungan organiknya dapat berubah menjadi cairan nutrisi untuk tanaman.
Karena itu semakin banyak orang mulai mempelajari cara membuat pupuk organik cair dari sampah dapur sebagai langkah sederhana mengurangi sampah sekaligus menghasilkan sesuatu yang lebih berguna.
Didukung oleh Arah Kebijakan Pengurangan Sampah Organik
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga terus mendorong pengurangan sampah organik dari sumbernya.
Hal ini sejalan dengan data nasional yang menunjukkan bahwa sekitar:
± 50–60% komposisi sampah nasional masih berupa sampah organik
Sebagian besar berasal dari aktivitas rumah tangga sehari-hari.
Karena itu pengolahan berbasis rumah seperti fermentasi mulai dianggap penting untuk membantu mengurangi tekanan pada sistem sampah kota.
Kesimpulan: Bau Bisa Dikurangi Jika Sampah Dikelola dengan Benar
Banyak orang mengira sampah organik pasti identik dengan bau menyengat.
Padahal dalam banyak kasus, bau justru muncul karena sampah dibiarkan menumpuk tanpa pengelolaan yang tepat.
Fermentasi membantu membuat proses penguraian menjadi lebih stabil, lebih terkontrol, dan lebih mudah dikelola di rumah.
Dan dari proses sederhana inilah, sampah yang awalnya dianggap masalah perlahan bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Karena pada akhirnya, bukan sampahnya yang selalu menjadi masalah, tetapi bagaimana cara kita mengelolanya.
Sumber Data:
- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN)
- Program pengurangan sampah organik rumah tangga KLHK
- Data komposisi sampah nasional Indonesia
