Widhyanto Muttaqien: Peneliti Lapangan yang Menulis tentang Kuasa, Ruang, dan Kehidupan Warga
Rumelu.com: Nama Widhyanto Muttaqien mungkin belum sepopuler sejumlah akademisi atau aktivis yang sering muncul di media nasional. Namun di kalangan pemerhati pembangunan wilayah, pengelolaan sumber daya alam, dan pemberdayaan masyarakat, ia dikenal sebagai peneliti yang telah lama berkecimpung di lapangan.
Melalui buku terbarunya, Koreografi Perampasan: Menggugat Kuasa, Ruang, dan Meja Makan, Widhyanto menghadirkan refleksi panjang dari pengalaman yang ia kumpulkan selama puluhan tahun mendampingi masyarakat, meneliti perubahan wilayah, serta mengamati bagaimana kebijakan publik berdampak pada kehidupan warga sehari-hari.
Tumbuh dari Dunia Penelitian dan Pemberdayaan
Widhyanto Muttaqien merupakan peneliti yang lama berkiprah di lingkungan Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB University. Ia dikenal sebagai peneliti sosio-spasial dan kebencanaan yang banyak bekerja pada isu pembangunan wilayah, desa, lingkungan hidup, dan sumber daya alam.
Dalam sejumlah profil akademiknya, Widhyanto menyebut dirinya lahir dan besar di Jakarta. Selain terlibat dalam penelitian, ia juga aktif di berbagai organisasi yang bergerak pada advokasi sosial dan pengembangan masyarakat. Fokus kajiannya meliputi pembangunan berkelanjutan, antropologi sosial, partisipasi masyarakat, hingga persoalan penguasaan lahan dan tata ruang.
Berbeda dengan banyak penulis yang membangun gagasan dari balik meja kerja, Widhyanto mengembangkan perspektifnya melalui pengalaman langsung bersama komunitas, kelompok masyarakat, dan wilayah-wilayah yang mengalami perubahan sosial maupun ekologis.
Lebih dari Dua Dekade Meneliti Desa dan Wilayah
Rekam jejak Widhyanto menunjukkan keterlibatan panjang dalam isu pembangunan desa dan wilayah. Ia telah menulis berbagai karya mengenai adaptasi masyarakat terhadap perubahan lingkungan, perencanaan wilayah, pengelolaan sumber daya alam, serta pembangunan partisipatif.
Menurut profil penulis yang dipublikasikan IPB University, Widhyanto telah lebih dari 25 tahun mendalami pendekatan partisipatoris dalam pembangunan wilayah dan desa. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan masyarakat dan pengkaderan di luar lingkungan kampus.
Pengalaman lapangan yang panjang inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam melihat berbagai persoalan pembangunan dari sudut pandang warga, bukan semata-mata dari perspektif birokrasi atau investasi.
Dari Agropolitan hingga Koreografi Perampasan
Sebelum menerbitkan Koreografi Perampasan, Widhyanto telah terlibat dalam sejumlah publikasi yang berkaitan dengan pembangunan wilayah dan masyarakat. Beberapa di antaranya adalah Agropolitan: Konsep Pembangunan Kota-Desa Berimbang (2006), Bagaimana Komunitas Mengelola Bencana (2008), dan Narasi Perempuan (2012), yang ditulis bersama sejumlah penulis lain.
Jika karya-karya sebelumnya banyak berbicara mengenai pembangunan dan pemberdayaan, maka Koreografi Perampasan tampak menjadi salah satu karya paling reflektif dan kritis yang pernah ditulisnya.
Buku ini tidak hanya membahas persoalan ruang atau ekonomi, tetapi juga mempertanyakan bagaimana kekuasaan bekerja dalam menentukan siapa yang memperoleh manfaat pembangunan dan siapa yang harus menanggung akibatnya.
Suara dari Pinggir Panggung Pembangunan
Salah satu ciri khas pemikiran Widhyanto adalah keberpihakannya pada pengalaman masyarakat yang sering kali tidak terdengar dalam narasi besar pembangunan.
Alih-alih hanya berbicara tentang angka pertumbuhan, investasi, atau proyek infrastruktur, ia mengajak pembaca melihat bagaimana kebijakan menyentuh kehidupan nyata: petani yang kehilangan akses lahan, warga yang terdampak perubahan tata ruang, pekerja yang menghadapi ketidakpastian, hingga keluarga yang harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, judul Koreografi Perampasan bukan sekadar kritik terhadap perampasan sumber daya alam. Buku ini juga menjadi upaya memahami bagaimana relasi kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana masyarakat dapat membaca proses tersebut secara lebih kritis.
Penulis yang Tetap Berpijak pada Lapangan
Di tengah maraknya diskusi tentang pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, dan ketimpangan sosial, Widhyanto Muttaqien hadir sebagai salah satu penulis yang menawarkan perspektif berbasis pengalaman lapangan.
Ia tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga tentang manusia, ruang hidup, dan konsekuensi nyata dari berbagai keputusan yang diambil atas nama pembangunan.
Melalui Koreografi Perampasan, Widhyanto mengukuhkan posisinya sebagai peneliti sekaligus penulis yang berusaha menjembatani dunia akademik dengan pengalaman masyarakat. Karyanya menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal proyek dan statistik, melainkan juga tentang kehidupan orang-orang yang berada di baliknya.

